Rabu, 3 Mac 2010

BIODATA MAKHLUK YANG TERUNGGUL......

BIODATA RASULULLAH SAW
· Nama : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim.
· Tarikh lahir : Subuh hari Isnin, 12 Rabiulawal bersamaan  20 April 571 Masehi (dikenali sebagai   Tahun Gajah; sempena peristiwa tentera bergajah Abrahah yang menyerang kota Kaabah).
· Tempat lahir : Di rumah Abu Talib, Makkah Al-Mukarramah.
· Nama bapa : Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim.
· Nama ibu : Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf.
· Pengasuh pertama : Barakah Al-Habsyiyyah (digelar Ummu Aiman. Hamba perempuan bapa   Rasulullah SAW).
· Ibu susu pertama : Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab).
· Ibu susu kedua : Halimah binti Abu Zuaib As-Saadiah (lebih dikenali Halimah As-Saadiah.  Suaminya bernama Abu Kabsyah).
USIA 5 TAHUN
· Peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW yang dilakukan oleh dua malaikat untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalam hatinya.
USIA 6 TAHUN
· Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia di Al-Abwa ' (sebuah kampung yang terletak di antara Makkah dan Madinah).
· Baginda dipelihara oleh Ummu Aiman (hamba perempuan bapa Rasulullah SAW) dan dibiayai oleh datuknya Abdul Muttalib.
USIA 8 TAHUN
· Datuknya, Abdul Muttalib pula meninggal dunia.
· Baginda dipelihara pula oleh bapa saudaranya, Abu Talib.
USIA 9 TAHUN  (Setengah riwayat mengatakan pada usia 12 tahun).
· Bersama bapa saudaranya, Abu Talib bermusafir ke Syam atas urusan perniagaan..
· Di kota Busra, negeri Syam, seorang pendita Nasrani bernama Bahira (Buhaira) telah bertemu ketua-ketua rombongan untuk menceritakan tentang pengutusan seorang nabi di kalangan bangsa Arab yang akan lahir pada masa itu.
USIA 20 TAHUN
· Terlibat dalam peperangan Fijar . Ibnu Hisyam di dalam kitab ' Sirah ' , jilid1, halaman 184-187 menyatakan pada ketika itu usia Muhammad SAW ialah 14 atau 15 tahun. Baginda menyertai peperangan itu beberapa hari dan berperanan mengumpulkan anak-anak panah sahaja.
· Menyaksikan ' perjanjian Al-Fudhul ' ; perjanjian damai untuk memberi pertolongan kepada orang yang dizalimi di Makkah.
USIA 25 TAHUN
· Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah binti Khuwailid Al-Asadiyah.
· Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah.
· Baginda SAW bersama-sama Abu Talib dan beberapa orang bapa saudaranya yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapa saudara Khadijah) untuk meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu.
· Mas kahwin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.
USIA 35 TAHUN
· Banjir besar melanda Makkah dan meruntuhkan dinding Kaabah.
· Pembinaan semula Kaabah dilakukan oleh pembesar-pembesar dan penduduk Makkah.
· Rasulullah SAW diberi kemuliaan untuk meletakkan ' Hajarul-Aswad ' ke tempat asal dan sekaligus meredakan pertelingkahan berhubung perletakan batu tersebut.
USIA 40 TAHUN
· Menerima wahyu di gua Hira ' sebagai perlantikan menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.
USIA 53 TAHUN
· Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Saidina Abu Bakar Al-Siddiq.
· Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal/ 24 September 622M.
USIA 63 TAHUN
· Kewafatan Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12 Rabiulawal tahun 11Hijrah/ 8 Jun 632 Masihi.
ISTERI-ISTERI RASULULLAH SAW
§ Khadijah Binti Khuwailid.
§ Saudah Binti Zam'ah.
§ Aisyah Binti Abu Bakar (anak Saidina Abu Bakar).
§ Hafsah binti ' Umar (anak Saidina ' Umar bin Al-Khattab).
§ Ummi Habibah Binti Abu Sufyan.
§ Hindun Binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah).
§ Zainab Binti Jahsy.
§ Maimunah Binti Harith.
§ Safiyah Binti Huyai bin Akhtab.
§ Zainab Binti Khuzaimah (digelar ' Ummu Al-Masakin ' ; Ibu Orang Miskin).
ANAK-ANAK RASULULLAH SAW
1. Qasim
2. Abdullah
3.. Ibrahim
4. Zainab
5. Ruqaiyah
6. Ummi Kalthum
7. Fatimah Al-Zahra
KENALI NABI MUHAMMAD S.A.W. ( drpd yg diceritakan oleh para sahabat )
- Aku belum pernah melihat lelaki yang sekacak Rasulullah saw..
- Aku melihat cahaya dari lidahnya.
- Seandainya kamu melihat Baginda, seolah-olah kamu melihat matahari terbit.
- Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.
- Rasulullah umpama matahari yang bersinar.
- Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya spt bulan purnama.
- Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.
- Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.
- Wajahnya seperti bulan purnama.
- Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya.
- Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
- Mata baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.
- Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.
- Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.
- Mulut baginda sederhana luas dan cantik.
- Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.
- Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.
- Janggutnya penuh dan tebal menawan.
- Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca.                                            
- Warna lehernya putih seperti perak, sangat indah.
- Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.
- Rambutnya sedikit ikal.
- Rambutnya tebal kdg-kdg menyentuh pangkal telinga dan kdg-kdg mencecah bahu tapi disisir rapi.
- Rambutnya terbelah di tengah.
- Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur dari dada ke pusat.
- Dadanya bidang dan selaras dgn perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih drpd biasa.
- Seimbang antara kedua bahunya.
- Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besar dan tersusun dgn cantik.
- Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.
- Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik
- Kakinya berisi, tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air.
- Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
- Warna kulitnya tidak putih spt kapur atau coklat tapi campuran coklat dan putih.
- Warna putihnya lebih banyak.
- Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.
- Warna kulitnya putih tapi sihat.
- Kulitnya putih lagi bercahaya.
- Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kukuh.
- Badannya tidak gemuk.
- Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi kacak.
- Perutnya tidak buncit.
- Badannya cenderung kepada tinggi, semasa berada di kalangan org ramai baginda kelihatan lebih tinggi drpd mereka.

Isnin, 1 Mac 2010

TANGISAN INSAN2 YANG MULIA


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” 
(HR. Tirmidzi [1633]).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya;
[1] seorang pemimpin yang adil, 
[2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala, 
[3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid, 
[4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’,
[6] seorang yang bersedekah secara sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan 
[7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363])

Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.
Ka’ab bin al-Ahbar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya mengalirnya air mataku sehingga membasahi kedua pipiku karena takut kepada Allah itu lebih aku sukai daripada aku berinfak emas yang besarnya seukuran tubuhku.”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan; suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).

Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan,"Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata, ‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’ Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’ Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”.
 Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’. Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).

Mu’adz radhiyallahu’anhu pun suatu ketika pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab,

al-Hasan al-Bashri rahimahullah pun pernah menangis, dan ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Aku khawatir besok Allah akan melemparkan diriku ke dalam neraka dan tidak memperdulikanku lagi.”

Abu Musa al-Asya’ri radhiyallahu’anhu suatu ketika memberikan khutbah di Bashrah, dan di dalam khutbahnya dia bercerita tentang neraka. Maka beliau pun menangis sampai-sampai air matanya membasahi mimbar! Dan pada hari itu orang-orang (yang mendengarkan) pun menangis dengan tangisan yang amat dalam.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu menangis pada saat sakitnya [menjelang ajal]. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?!”. Maka beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara dunia kalian [yang akan kutinggalkan] ini. Namun, aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan ke manakah digiring diriku nanti?”.

Suatu malam al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”

Lihatla wahai sahabat2 ku,para wali ALLAH yang menangis kerna gementarnya sekecil dosa mereka.andai kita ditanya kenapa kita menangis,pasti jawapan kematian saudara,kesakitan,kehilangan barang tersayang dan sebagainya keduniaan,di maan letaknya air mata yang bisa menebus dirimu daripada nerakaNYA....dimana?
Laa haula wa laa quwwata illa billah! Alangkah jauhnya akhlak kita dibandingkan dengan akhlak para salafush shalih? wahai saudaraku, Tidakkah dosamu membuatmu menangis dan bertaubat kepada Rabbmu? apakah kamu berkira umurmu masih panjang,adakah hatimu telah buta,hitam dilitupi kabus dosa?Dengan linangan airmata,ana bermohon marilah kita berubah segera sebelum kita terlewat,diwaktu tiada siapa yang dapat menolong.Usahlah menjadi makluk yang ingkar,yang lupa,dan tidak tahu mengenang budi kepada RABBnya.

MAKNA KUNCI PINTU LANGIT DAN SYURGA

 
Makna La ilaha illallah
Rujukan : Kitab Tauhid li Shafil Awwal hal. 45

Makna syahadat la ilaha illallah adalah meyakini bahwa tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Allah, konsisten dengan pengakuan itu dan mengamalkannya. La ilaha menolak keberhakan untuk diibadahi pada diri selain Allah, siapapun orangnya. Sedangkan illallah merupakan penetapan bahwa yang berhak diibadahi hanyalah Allah. Sehingga makna kalimat ini adalah la ma’buda haqqun illallah atau tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Sehingga keliru apabila la ilaha illallah diartikan tidak ada sesembahan/tuhan selain Allah, karena ada yang kurang. Harus disertakan kata ‘yang benar’ Karena pada kenyataannya sesembahan selain Allah itu banyak. Dan kalau pemaknaan ‘tidak ada sesembahan selain Allah’ itu dibenarkan maka itu artinya semua peribadahan orang kepada apapun disebut beribadah kepada Allah, dan tentu saja ini adalah kebatilan yang sangat jelas.
Kalimat syahadat ini telah mengalami penyimpangan penafsiran di antaranya adalah :
  • Pemaknaan la ilaha illalah dengan ‘la ma’buda illallah’ tidak ada sesembahan selain Allah, hal ini jelas salahnya karena yang disembah oleh orang tidak hanya Allah namun beraneka ragam
  • Pemaknaan la ilaha illallah dengan ‘la khaliqa illallah’ tidak ada pencipta selain Allah. Makna ini hanya bagian kecil dari kandungan la ilaha illallah dan bukan maksud utamanya. Sebab makna ini hanya menetapkan tauhid rububiyah dan itu belumlah cukup.
  • Pemaknaan la ilaha illallah dengan ‘la hakimiyata illallah’ tidak ada hukum kecuali hukum Allah, maka inipun hanya sebagian kecil maknanya bukan tujuan utama dan tidak mencukupi.
Sehingga penafsiran-penafsiran di atas adalah keliru. Hal ini perlu diingatkan karena kekeliruan semacam ini telah tersebar melalui sebagian buku yang beredar di antara kaum muslimin. Sehingga penafsiran yang benar adalah sebagaimana yang sudah dijelaskan yaitu : ‘la ma’buda haqqun illallah’ tidak ada sesembahan yang benar selain Allah

Makna Muhammad Rasulullah
Rujukan : Kitab Tauhid li Shafil Awwal hal. 46

Sedangkan makna syahadat anna Muhammadar rasulullah adalah mengakui secara lahir dan batin bahwa beliau adalah hamba dan utusan-Nya yang ditujukan kepada segenap umat manusia dan harus disertai sikap tunduk melaksanakan syari’at beliau yaitu dengan membenarkan sabdanya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah kepada Allah hanya dengan tuntunannya.

Rukun dan Syarat Syahadat
Rujukan : Kitab Tauhid li Shafil Awwal hal. 46-48

La ilaha illallah terdiri dari dua rukun : nafi/penolakan, yaitu yang terkandung di dalam la ilaha dan itsbat/penetapan, yaitu yang terkandung dalam illallah. Maka dengan la ilaha dihapuslah segala bentuk kesyirikan dan mengharuskan mengingkari segala sesembahan selain Allah. Sedangkan dengan illallah maka ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah dan harus tunduk melaksanakannya. Ayat-ayat yang mengungkapkan dua rukun ini banyak, di antaranya adalah firman Allah tentang ucapan Nabi Ibrahim, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari semua sesembahan kalian, selain (Allah) yang telah menciptakan diriku.” (QS. az-Zukhruf : 26).
Sedangkan rukun syahadat anna Muhammad rasulullah ada dua yaitu ; pernyataan bahwa beliau adalah hamba Allah dan sebagai rasul-Nya. Beliau adalah hamba, maka tidak boleh diibadahi dan diperlakukan secara berlebihan. Dan beliau adalah rasul maka tidak boleh didustakan ataupun diremehkan. Beliau membawa berita gembira dan peringatan bagi seluruh umat manusia.
Syarat-syarat la ilaha illallah adalah :
  • Mengetahui maknanya, lawan dari bodoh
  • Meyakininya, lawan dari ragu-ragu
  • Menerimanya, lawan dari menolak
  • Tunduk kepadanya, lawan dari membangkang
  • Ikhlas dalam beribadah, lawan dari syirik
  • Jujur dalam mengucapkannya, lawan dari dusta
  • Mencintai isinya dan tidak membencinya
Syarat-syarat anna Muhammadar rasulullah adalah :
  • Mengakui risalahnya secara lahir dan batin
  • Mengucapkan dan mengakuinya dengan lisan
  • Mengikutinya, yaitu dengan mengamalkan kebenaran yang beliau bawa dan meninggalkan kebatilan yang beliau larang
  • Membenarkan beritanya, baik yang terkait dengan perkara gaib di masa silam atau masa depan
  • Mencintai beliau lebih dalam daripada kecintaan terhadap diri sendiri, harta, anak, orang tua dan seluruh umat manusia
  • Menjunjung tinggi sabdanya di atas semua ucapan manusia dan mengamalkan sunah/tuntunannya
Konsekuensi Syahadatain
Rujukan : Kitab Tauhid li Shafil Awwal hal. 50 dengan sedikit perubahan dan penambahan
Konsekuensi syahadat la ilaha illallah adalah meninggalkan segala bentuk peribadahan dan ketergantungan hati kepada selain Allah. Selain itu ia juga melahirkan sikap mencintai orang yang bertauhid dan membenci orang yang berbuat syirik. Sedangkan konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah adalah menaati Nabi, membenarkan sabdanya, meninggalkan larangannya, beramal dengan sunnahnya dan meninggalkan bid’ah, serta mendahulukan ucapannya di atas ucapan siapapun. Selain itu, ia juga melahirkan sikap mencintai orang-orang yang taat dan setia dengan sunnahnya dan membenci orang-orang yang durhaka dan menciptakan perkara-perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada tuntunannya.

Sabtu, 27 Februari 2010

SEMINAR - MENYINGKAP SEJARAH KHILAFAH

PDF Print E-mail
Para Muslimin dan Muslimat adalah dijemput ke Seminar Terbuka yang bertajuk "Menyingkap Sejarah Khilafah - Antara Pejuang dan Petualang” anjuran Hizbut Tahrir Malaysia dengan kerjasama Khilafah Center. Maklumat seminar adalah seperti berikut:

Tarikh : 7hb Mac 2010 (Ahad) bersamaan 21 Rabi’ul Awwal 1431 H
Waktu :  0830 pagi - 1:00 petang
Tempat :  Masjid Jamek Sultan Abdul Aziz, Petaling Jaya
(Berhampiran Hospital Assunta, PJ).

AYUH...TEGAKKAN DAULAH KHILAFAH !!!!

Sejak kehancuran Daulah Khilafah pada 28 Rajab 1342H (3 Mac 1924), seluruh sistem pemerintahan Islam pun turut musnah. Sistem Khilafah yang selama ini telah menguasai dan memerintah hampir dua per tiga dunia kini telah lenyap. Sistem Khilafah yang telah menaungi manusia selama lebih 13 abad dan yang telah membawa rahmat ke seluruh alam, kini telah berkubur dengan runtuhnya Daulah Khilafah lebih 80 tahun yang lalu, sebuah institusi politik agung umat Islam. Justeru, generasi yang hidup selepas itu, hinggalah ke hari ini, sudah tidak lagi dapat merasai hidup di dalam Daulah Islam. Mereka sudah tidak dapat merasakan hidup di dalam sebuah Negara Islam yang benar-benar menerapkan sistem pemerintahan Islam.

Oleh sebab itu, di antara pelbagai kesulitan yang dijumpai di tengah-tengah umat Islam saat ini adalah bagaimana untuk mendekatkan gambaran sistem pemerintahan Islam di dalam benak mereka. Ini kerana, gambaran yang ada sekarang di dalam pemikiran umat Islam sudah tidak dapat lari dari sistem demokrasi kufur ciptaan Barat. Fikiran umat Islam sudah tidak mampu menggambarkan bentuk sistem pemerintahan Islam yang sebenar sebagaimana yang ada pada zaman Rasulullah dan para Khulafa’ Rasyidun. Jika ada dalam gambaran mereka sekalipun tentang sistem pemerintahan Islam, maka ia tidak dapat lari dari ruang lingkup sistem demokrasi kufur yang ada sekarang, dengan kata lain, mereka cuba menggambarkan atau menyesuaikan sistem Islam mengikut kehendak/acuan demokrasi yang ada, tanpa dapat lari darinya. 

Kesulitannya tidak hanya berhenti di situ. Terdapat pula kesulitan-kesulitan lain iaitu untuk mengubah pemikiran umat Islam yang telah teracuni oleh tsaqafah Barat. Tsaqafah ini benar-benar telah menjadi senjata utama Barat dalam menghadapi umat Islam. Tsaqafah inilah yang telah Barat hunjamkan ke dalam tubuh Daulah Islam sehingga melahirkan kesakitan yang amat mendalam di dalam kehidupan umat Islam. Barat kemudian membawa senjata ini (tsaqafah) dan memberikannya kepada anak cucu Daulah, di saat senjata tersebut masih menitiskan darah ‘ibunya’ (Daulah Islam) yang baru sahaja di bunuhnya. Tatkala Barat membawa senjata ini, mereka berkata kepada anak-cucu Daulah dengan angkuh dan sombong, “Sungguh aku telah membunuh ibu kalian yang memang patut dibunuh kerana penjagaannya yang buruk terhadap kalian. Sekarang aku menjanjikan penjagaan yang lebih baik yang akan membuatkan kalian merasakan kebahagiaan hidup dan kenikmatan yang nyata.” Kemudian, anak-anak itu pun menghulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan sang pembunuh yang mana senjatanya masih terhunus dan berlumuran dengan darah ibu mereka.

Semenjak kematian ibu mereka, umat Islam sudah kehilangan orang yang selama ini mengasuh dan menjaga mereka. Umat Islam sudah mula lupa akan orang yang selama ini menjaga dan menyayangi mereka. Racun tsaqafah yang dicucuk oleh Barat telah membiuskan mereka dari semua ini, sehingga mereka terus alpa dalam tsaqafah yang menyesatkan ini. Apabila terhantuk dan tersedar, sekali-sekala umat lalu Islam bangkit untuk memerangi Barat, tetapi sayangnya pada masa yang sama mereka masih mengambil tsaqafah Barat. Tatkala mereka bangkit menyatakan kemarahan kepada Barat, umat Islam juga dalam masa yang sama masih berpegang erat dengan sistem yang di bawa oleh Barat. Padahal dengan tsaqafah dan sistem itulah yang telah mengakibatkan mereka selama ini terjajah dan berada di dalam kehinaan. Kemudian umat Islam terhantuk lagi, dan mereka bangkit lagi untuk memerangi Barat, namun dalam masa yang sama mereka masih menghulurkan tangan kepada Barat dari arah belakang dengan mengambil racun-racun yang mematikan itu, lalu meminumnya. Lantaran itu, umat Islam terus tersungkur di dalam kelemahan, kekalahan dan kehinaan di hadapan Barat.

Justeru, pokok persoalannya sekarang adalah umat Islam itu wajib kembali menegakkan semula Daulah Islam yang akan menerapkan kepada segala hukum-hakam Islam. Umat wajib kembali menerapkan sistem pemerintahan Islam. Kita tidak mahu negeri-negeri umat Islam yang ada sekarang terus-menerus berada dalam keadaan terpecah belah dan menerapkan sistem demokrasi, kerana inilah yang dimahukan oleh Barat. Kita mahukan penyatuan semua negeri umat Islam di bawah seorang Khalifah yang menerapkan sistem yang berasal dari langit. Oleh itu, kita mesti bersatu membangun Daulah Islam yang satu untuk keseluruhan umat Islam. Dalam hal ini, kita bukannya mahu mendirikan sebuah negara yang hanya dikenali dengan ‘sebutan’ Negara Islam, tetapi berhukum dengan hukum selain hukum Allah dan Rasul. Kita juga tidak mahu mendirikan sebuah negara yang hanya ‘dikenali’ dengan Negara Islam, namun menerapkan sistem demokrasi, yang nyata-nyata sebuah sistem pemerintahan kufur. Apa yang kita mahukan adalah sebuah Daulah Khilafah yang menerapkan sistem-sistem pemerintahan Islam semata-mata. 

Sesungguhnya Daulah Islam bukanlah sebuah mimpi. Bukan pula sebuah khayalan dalam imaginasi. Sebab, ia dahulunya pernah wujud dalam bentuk yang nyata, ia benar-benar wujud dan telah memenuhi relung-relung sejarah selama lebih 13 abad. Maka dari itu, Daulah Islam yang akan kita dirikan ini pun akan wujud secara nyata sebagaimana wujudnya di masa lampau. Bukti-bukti dan unsur-unsur ke arah terwujudnya sebuah Daulah Khilafah kini, ternyata jauh lebih kuat dari suara-suara yang menganggapnya sebagai sebuah mimpi. Waktu ini, umat Islam yang memiliki akal yang jernih sudah mula nampak akan kehadirannya dan mereka semakin merindukan tegaknya sebuah institusi agung pemersatu umat ini.

Sesungguhnya orang-orang yang meniti jalan dakwah untuk mewujudkan Daulah Islam mestilah mempunyai pemikiran dan pengetahuan yang jernih akan segala sistem yang bakal diterapkan di dalam Daulah Islam nanti. Sebagaimana kita meyakini firman Allah bahawa deen Islam ini sempurna, maka kita juga meyakini bahawa sistem pemerintahan Islam juga adalah sempurna. Justeru, kesempurnaan sistem Islam itu bermaksud sistem itu “berdiri sendiri” tanpa memerlukan ‘pelengkap’ dari sistem yang lain. Dengan kata lain, umat Islam tidak memerlukan sistem demokrasi, baik sebagai ‘pelengkap’, ‘penghias’, ‘penumpang’, apatah lagi sebagai ‘asas’ untuk kita melaksanakan sistem pemerintahan Islam.

Sesungguhnya Hizbut Tahrir telah memperjelas dan merincikan segala bentuk sistem pemerintahan Islam di dalam kitab-kitabnya, yang kesemuanya disertakan dengan nas-nas dari Al-Quran dan As-Sunah. Selain itu, sistem-sistem pemerintahan ini juga telah diistinbat berdasarkan ijtihad tiga orang Amir Hizbut Tahrir iaitu Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, Syeikh Abdul Qadim Zallum dan yang terbaru, Syeikh Atha’ Abu Rasytah. Kesemua kitab yang membincangkan tentang sistem-sistem ini merupakan kitab yang mesti dipelajari oleh setiap orang yang ingin bergabung di dalam barisan Hizbut Tahrir.

Atas dasar untuk memudahkan kefahaman umat Islam dan juga sebagai penjernihan pemikiran tentang struktur Daulah Islam, maka Hizbut Tahrir Malaysia mempersembahkan di sini Carta Organisasi sistem-sistem Khilafah untuk tatapan semua. Carta ini adalah diambil atau di ekstrak dari sebahagian kitab-kitab keluaran Hizbut Tahrir seperti Ajhizah Daulah Al-Khilafah Fi Al-Hukm Wa Al-Idarah (Struktur Negara Khilafah Dari Segi Pemerintahan dan Administrasi, Nidzamul Hukmi Fil Islam (Sistem Pemerintahan Di Dalam Islam), Al-Amwal Fi Daulah Al-Khilafah (Harta-Harta Dalam Daulah Khilafah) dan juga kitab Nizamul Iqtisadi Fil Islam (Sistem Ekonomi Dalam Islam) di mana Hizbut Tahrir, berdasarkan nas-nas yang jelas, telah mentabanni (adopt) bahawa terdapat 13 struktur utama di dalam Daulah al-Khilafah.

Insya Allah, kandungan carta organisasi ini akan dimuatkan dengan penjelasan dari teks-teks yang diambil dari kitab-kitab tersebut dan akan dikemaskinikan dalam sedikit masa lagi. Semoga carta ini dapat memberi manfaat kepada seluruh kaum Muslimin yang menginginkan kembalinya Daulah Khilafah yang sama-sama kita perjuangkan ini. ALLAHU AKBAR!
 
 
(1) Al-Khalifah
Al-Khalifah
 
(2) Mu'awwin At-Tafwidh
Mu'awwin At-Tafwidh (Pembantu Pemerintahan)
 
(3) Mu'awwin At-Tanfiz
Mu'awwin At-Tanfiz (Pembantu Pentadbiran)
 
(4) Al-Wulat
Al-Wulat (wali-wali)
 
(5) Amirul Jihad
Amirul Jihad (Ketua Turus Angkatan Tentera)
 
(6) Da'irah Al-Amni
Da'irah Al-Amni (Jabatan Keamanan Dalam Negeri)
 
(7) Da'irah Al-Kharajiyah
Da'irah Al-Kharajiyah (Jabatan Luar Negara)
 
(8) Da'irah As-Sina'ah
Da'irah As-Sina'ah (Jabatan Perindustrian)
 
(9) Al-Qadha'
Al-Qadha' (Kehakiman)
 
(10) Al-Jihaz Al-Idariy
Al-Jihaz Al-Idariy (Jentera-jentera Pentadbiran)
 
(11) Baitul Mal
Baitul Mal
 
Baitul Mal - Al-Waradat
Baitul Mal - Al-Waradat (Pendapatan)
 
Baitul Mal - An-Nafaqat
Baitul Mal - An-Nafaqat (Perbelanjaan)
 
(12) Da'irah Al-I'lamiy
Da'irah Al-I'lamiy (Jabatan Penerangan)
 
(13) Majlis Al-Ummah
Majlis Al-Ummah (Majlis Umat)

Rabu, 17 Februari 2010

Pengakuan Orang-orang Barat Terhadap Imam Mahdi

messiahwar

Di dalam post terbaru ini, kita akan lihat pengakuan orang-orang barat terhadap Imam Mahdi.
Agenda Yahudi yang Kesembilan (untuk memusnahkan umat Islam): Menjauhkan umat Islam dari memegang tampuk pemerintahan di negara-negara Islam dan jangan beri kesempatan bergerak.






Montgomery Watt
Montgomery Watt

1. Sehubungan itu, seorang orientalis Inggeris, Montgomery Watt, menulis dalam ‘London Time’ pada tahun 1968:
“Kalau sudah ditemui seorang pemimpin Islam yang (benar-benar) berkelayakan dan bercakap dengan suara Islam yang tepat pula, kemungkinan besar agama itu akan (bangkit kembali dan) merupakan sebuah kekuatan politik yang besar di dunia ini sekali lagi.”
Yang dimaksudkan oleh Montgomery itu adalah pemimpin yang bertaraf khalifah, kerana hanya seorang pemimpin yang bertaraf khalifah sahaja yang akan mampu menyatukan kembali seluruh umat Islam yang sedang kronik berpecah-belah pada hari ini. Pemimpin yang bertaraf Presiden atau Perdana Menteri tidak termasuk dalam senarai pemimpin yang dimaksudkan oleh beliau.
Taraf Presiden atau Perdana Menteri hanya layak untuk memimpin di dalam wilayah yang terhad atau dihadkan, tidak layak untuk memimpin dunia yang tanpa sempadan, atau sekurang-kurangnya di seluruh dunia Islam. Hanya seorang pemimpin yang bertaraf Khalifah sahaja yang akan diberi kemampuan dan berkelayakan penuh untuk berbuat demikian.

Ben Gurion
Ben Gurion

2. Bekas Perdana Menteri Israel, Ben Gurion pernah dilaporkan berkata,
“Sesungguhnya yang paling menakutkan kami ialah, kalau dalam dunia Islam, sudah lahir seorang Muhammad Baru.”
Muhammad Baru yang dimaksudkan oleh Ben Gurion itu tidak lain dan tidak bukan adalah Imam Mahdi, kerana nama Imam Mahdi itu adalah Muhammad, sama dengan nama datuknya, Nabi Muhammad SAW. Jelaslah bahwa pihak Barat amat takutkan peribadi yang bernama Muhammad ini, yang digelar sebagai Imam Mahdi, dan ketakutan mereka itu tidak dapat disembunyikan lagi.
Jelaslah bahwa orang-orang Kristian adalah jauh lebih peka daripada kita, umat Islam sendiri dalam hal mempercayai dan meyakini kedatangan Imam Mahdi ke dunia ini. Mereka sentiasa berjaga-jaga menanti tibanya seorang pemimpin Islam bernama Muhammad, tahu pula tempat keluarnya dan bila keluarnya. Pada masa yang sama kita umat Islam masih lagi sibuk bercakaran mengenai sahih atau dhaifnya hadis-hadis mengenai Imam Mahdi itu.
Yang percaya kepada kedatangan Imam Mahdi sibuk mengutuk golongan yang tidak percaya, manakala yang tidak percaya, sibuk pula mengutuk golongan yang percaya kepada kedatangan Imam Mahdi. Titik pertemuan tidak juga diperoleh. Siapa lagi yang harus dipersalahkan dalam soal ini?

The Mahdi
The Mahdi

3. A. J. Quinnell, seorang novelis Barat telah menulis sebuah novel bertajuk The Mahdi.
Di dalam novel itu disebutkan andaian beliau bahawa isu Imam Mahdi ini akan dieksploitasi oleh kuasa-kuasa besar Barat. Kuasa-kuasa besar ini akan bergabung tenaga, fikiran dan matlamat untuk menonjolkan seorang yang mereka pilih sebagai Mahdi untuk diikuti oleh seluruh umat Islam. Tujuannya adalah untuk mencapai tujuan jahat mereka terhadap umat dan negara-negara Islam. Mahdi boneka ini dirancang oleh perisik-perisik CIA, MI5 dan KGB untuk muncul di Tanah Suci Makkah. Setelah itu, beliau akan mengarahkan seluruh umat Islam mengikut beliau tunduk kepada kuasa-kuasa besar Barat itu.

Selasa, 16 Februari 2010

5kegelapan yang diterangi 5cahaya

Abu Bakar Assidiq RA adalah salah seorang sahabat Rasullullah s.a.w yang paling rapat dan dijanjikan syurga,semasa hayat beliau,pernah menyatakan bahawa adanya 5kegelapan yang pasti anak adam akan lalui tetapi ada 5 cahaya yang akan menemani.

Dalam 5 Kegelapan dan 5 cahaya itu adalah :

Pertama

Kegelapan dunia,dunia yang disangka terang dengan cahaya mentari,cahaya bulan mahupun lampu yang bergemelapan rupanya  gelap gelita,ramai yang terjatuh,tersungkur,rebah akibat kegelapan dunia, kegelapannya lebih dari gua tanpa cahaya dan malam tanpa bulan dan bintang di mana tinta2 lautan nafsu dan lembah2 kemaksiatan menutup segala cahaya yang membuat manusia lupa tujuan mereka di dunia,lupa akan TUHAN mereka dan jauh dari fitrah mereka.Yang amat menyedihkan sisi cahaya kebaikan dinodai perasaan aneh dan nampak buruk tetapi sisi gelap noda maksiat dilihat indah . ALLAH lebih maha mengetahui dan maha penyayang,DIA utuskan bulan di bumi,utusan2 yang membimbing manusia kejalan Takwa iaitu satu2nya cahaya penyelamat dan penyuluh manusia tetapi masih lagi yang menidakkan utusan2 ini,sengaja menutup mata kerana sifat sombong dan angkuh bermaharaja di hati,Sungguh benarlah firmanNYA Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian,tetapi tidak pada yang bertakwa di jalanNYA.Ada yang menerima tetapi memalapkan cahaya itu dengan hawa nafsu,maksiat yang terus menerus sehingga cahaya itu hilang,dan mereka tersungkur dilembah kehinaan.Tanpa takwa manusia akan buta,akal tertutup dan ilangnya pertimbangan sehinggakan gejala2 sosial dan maksiat bermaharajalela,sebelum cahaya ini di tarik buat selamanya,ayuhla kita bersama kembali kejalanNYA,meniti titian keredhaanNYA,semoga fitnah2 kegelapan duniawi dapat diterangi untuk kita terus menyusuri denai2 perjuangan.



Kedua

Kegelapan noda2 dosa ,menggelapkan hati,membuatkan mata yang celik menjadi buta,akal yang waras menjadi gila,sifat manusia akan jadi haiwan,sesungguhnya manusia yang menzalimi diri mereka sendiri.Hanya cahaya taubat sahaja dapat mengelap noda2 agar cermin hati bisa menerima cahaya menembusinya.Nilai kegelapan hati boleh diukur dengan penerimaan kita terhadap segala perintahNYA.Dengan taubat kita hati akan merasa terang dan lapang.Seringkali kita dengar,masih belum dapat hidayah ,bagaimana nak bertaubat,ini adalah kesilpan manusia yang memberi alasan mengkhianati pintu2 cahaya taubat untuknya dari TUHAN yang MAHA ESA. Usahla menanti nyawa tiba di halkum untuk bertaubat kerana sesungguhnya dikala itu cahaya taubat telah ditarik selamanya.Wahai sahabat2,kasihanila dirimu sendiri,usahla memberi alasan2 lagi untuk berubah kepada jalanNYA.

Ketiga

Kegelapan ketiga ialah kuburan,yang pastinya ramai telah mengetahui kisah2 alam barzakh ini atau kubur,tetapi kerana kesombongan hati yang telah sedia hitam,kita mengkhianati kegelapan kuburan ini,yang amat ditakuti,tetapi berutunglah bila mereka meninggalkan alam yang fana ini dengan gengaman keyakina ucapan La Illa Ha Illallah Muhammadarrosulullah yang menjadi penyuluh di kuburan.kegelapan yang membuat kita takut,panas dan sesak nafas,apakah waktu itu baru kita mahu mengakui akan setiap cahaya2NYA yang dahulunya kita sengaja khianati.Bila kita dapat bayang,pasti kita akan menggeletar ketakutan,menangis kegerunan,tetapi kerana cahaya2 palsu dunia yang membuat kita lupa,leka dan cuai dalam mengembara alam fana ini.Bagaimana mereka boleh katakan istana yang besar itu istana mereka sedangkan kuburan yang sempit lagi gelap menanti mereka,rumah yang sebenar yang patut mereka sedar untuk dihiasi dan diterangi.



Ke empat

Kegelapan Akhirat cahayanya adalah amal sholeh, akhirat tak dapat untuk dibayangkan kegelapannya berbagai2 fitnah terjadi,kita akan menjerit2 bila melihat kejadian pembunuhan di depan mata,tetapi bagaimana dengan fitnah yang akan terjadi di akhirat yang pastinya lebih dasyat yang tidak dapat dibayangkan oleh akal yang waras,jika manusia sedar pasti mereka akan beramal soleh untuk menjdi lilinm,pelita,lampu,penyuluh dan bekalan di sana.Yang pastinya ketika itu ibubapa yang kita sayangi tidak akan mengenali kita,anaka2 tidak dikenali,kawan2 yang rapat hilang kemana,siapa yang dapat membantu,siapa?sedarlah wahai sahabat2ku kerana kegelapan di sana bukanlah seperti yang kita dapat bayng di dunia ini.Dengan berbagai fitnah,marila kita berdoa memohon agar Dia memimpin kita dalam istiqamah menataati perintahNYA dan beramal soleh sebagai bekalan di sana.Sedar la,sebelum matahari bersinar di barat,sebelum ayat2NYA hilang dari muka bumi,sebelum hilangnya ulama'sesungguhnya kita diamabng akhir zaman,pintu akhirat makin dekat.


Kelima

Kegelapan sirath cahayanya adalah iman

Sirath adalah jambatan yang menghubungkan masyar dengan syurga,lebih ahalus dari sehelai rambut dan lebih tajam dari pedang yang di bawah sirath terbentang neraka yang menyala.Adakah kita masih lagi ingin menidakakn titian sirat ini yang salah satu perkara ghaib yang wajib diimani.bagaimana logiknya untuyk kita lalui dengan selamat,tetapi itu kuasaNYA,yang lebih MAHA MENGETAHUI.bagaimana untuk kita selamat adalah dengan cahaya iman,ahanya kualiti iman yang membezakan manusia selamat atau tidak,lamabat atau cepat untuk meniti titian tersebut.Yang pasting manusia seperti hujan akan jatuh ke bawah,kedalam neraka yang maha dasyat azabNYA.usahlah kita terpedaya lagi dengan keindahan dan tipu daya fitnah dunia dengan cahaya2 palsu,yang pasti sebenarnya membuat kita gelap dan buta,teraba2.Selagi Dia memberi kita peluang,marilah kita bersama kembali kejalan yang diredhaiNYA,gunala sebaik2nya 5 cahaya pemberianNYA itu sebelum DIA menggelapkan kita selamanya.

Jumaat, 15 Januari 2010

IMAM oh IMAM

Assalamu'alaikum warahmatullah..salam sejahtera dan ukhwah kepada para sahabat dan pembaca...alhamdullillah,masih lagi diizinkan untuk saya mencoret luahan nada jauh di sudut hati...Pasti anda tertanya kenapa plak tajuk artikel ini imam oh imam...jangan berfikiran buruk pula..Jemaah adalah satu tuntutan ISLAM,Tanya lah kepada para yahudi,nasrani atau majusi sekalipun,mereka akan takut bila masjid2 dan surau2 dipenuhi oleh barisan saf umat islam pada setiap waktu.Di dalam saf terdapatnya kekuatan,kedamian,keharmonian dan persaudaraan.saya mengucapkan tahniah kepada saudara yang hadir jemaah.Cuma kadangkala kita yang membuat jemaah berkurangan dan susah,kita boleh lihat sahaja ada segelintir para imam yang bacaannya agak panjang yang pastinya memberi bebanan kepada anak2 makmumnya yang hadir,kadangkala sayapun sering terfikir,adakah imam sendiri memahami setiap bacaannya,doa pula tidak kedengaran dengan jelas atau difahami maksudnya.ada juga cara bacaan doa yang sy menjadi musykil,seperti doa memohon ditolak bala,tangan diterbalikkan.adakah ini cara yang rasullullullah ajarkan.Tetapi hanya segelintir imam sebegitu,tidak bermaksud untuk ana berdepat cuma sekadar luahan hati.maafkan ana kiranya luahan ana salah.Apepun para saudara ku marilah kita berjemaah...di sana ada kekuatan dan persaudaraan kita....

Jumaat, 8 Januari 2010

TATAPAN UNTUK PARA MUSLIMAH

     Isu  masalah menutup aurat pada muslimah adalah satu isu semasa masalah yang kian parah dikalangan masyarakat kita,telah kering air liur rakan taulan,saudaramara mahupun makayah menasihati namun ada sahaja alasan dan hujah2 mereka mempertahankan hak mereka tak bertudung atau tidak menutup aurat ini, antaranya ialah hujah mereka,
    
     tidak mahu hipokrit, tidak mahu berubah kerana disuruh.

   Adakah layak kita menyatakan hujah sedemikian, meremehkan soal tuntutan dan suruhanNYA yang MAHA KUASA yang telah mengarahkan seluruh wanita muslimah untuk menutup aurat dan bukan hanya bertudung sahaja. Justeru, sama ada seseorang itu ikhlas atau tidak, suka atau tidak, disuruh oleh orang lain atau terbit dari hatinya sendiri, dia tetap WAJIB di sisi Allah untuk melaksanakan kewajiban itu. tiada istilah hipokrit dalam soal perintahNYA.

  Sebagai contoh mana seorang pemandu tidak berhemah warganegara Malaysia yang menetap di United Kingdom (UK), dia akan terpaksa mengubah cara pemanduannya kerana hemah pemandu di UK amat tinggi, sesiapa sahaja yang kurang berhemah akan segera mendapat teguran pemandu lain, malah adakalanya pemandu lain akan segera menelefon polis atau mencatat nombor plat kereta untuk diadukan kepada polis.

   Atas sebab itu, pemandu yang asalnya ‘brutal' or Samseng jalanan di Malaysia, TERPAKSA berubah di UK. Tidak kiralah sama ada dia berubah kerana hipokrit, terpaksa, tidak ikhlas atau apa jua sebab lauaran. Hakikatnya, dia MESTI berubah, kerana itu adalah sistem dan regulasinya. Mengabaikannya akan membawa mudarat kepada diri sendiri dan pemandu orang lain.

   Sama seperti menutup aurat dan bertudung, itu adalah regulasi dan sistem perundangan oleh agama Islam, mengabaikannya akan membawa mudarat spiritual kepada diri sendiri dan juga orang lain.sesungguhnya DIA lagi MAHA MENGETAHUI di atas setiap perintahNYA.

    Justeru itu, hipokrit tidak boleh sama sekali menjadi PENGHALANG untuk mengerjakan semua KEWAJIBAN agama, termasuk menutup aurat. Ia adalah arahan Allah dan hak Allah untuk menguji hambanya. Sama seperti mendirikan solat, membayar zakat, puasa Ramadhan dan semua arahan serta larangan Islam yang lain, sama ada seseorang itu ikhlas atau tidak, terpaksa atau tidak. Kewajiban untuk melakukan semua arahan wajib dan menjauhi larangan yang diharam tetap tertanggung di atas bahunya, walaupun dia tidak ikhlas atau masih gagal mencapai tahap Ikhlas.

   Apa yang perlu diusahakan adalah terus menerus berusaha memperoleh ikhlas semasa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan itu. Itu boleh dianggap sebagai adalah level kedua kesempurnaan ibadah. Level pertama adalah mesti melaksanakan tuntutan Islam.

    Perlu diingat, jika seseorang menutup aurat dan menunaikan solat secara ikhlas atau separa ikhlas, maka dia akan beroleh ganjaran sekadar keikhlasannya. Namun tanggungjawab fizikal yang diwajibkan oleh agama dikira sudah terlaksana secara zahirnya. ATAU kata lainnya, tatkala itu dia hanya BERDOSA SEKALI iaitu kerana tidak melaksanakannya secara ikhlas, tetapi dia terhindar dari dosa tidak mengerjakan yang wajib ke atasnya secara zahir.

    Namun jika dia degil dan tidak menutup aurat, tidak juga solat atas alasan TIDAK IKHLAS, TIDAK MAHU HIPOKRIT dan sebagainya. Tindakannya itu menjadikannya BERDOSA di sisi Allah secara fizikal dan juga spiritual, atau dalam kata lain saudari seperti menuai dosa yang bercambah setiap ada mata lelaki bukan mahram melihatnya.dan pastinya saudari akan menjawap dosa masing-masing,kubur masing-masing.Jika diperlihatkan azabNYA,adakah saudari akn berkata sedemikian.
    Kesimpulannya, ‘ingin berubah hasil hati sendiri', ‘tidak ikhlas' dan ‘tidak mahu hipokrit' itu semuanya hanya bisikan syaitan yang ingin menyesatkan hamba Allah agar terus menerus menjauhi kewajibannya. Sedarlah agar jangan lagi terpedaya, ingatlah berterusan dalam dosa sedang mengetahui hukumnya akan terus menerus menambah besar kemurkaan Allah swt dan akan menjadikan diri sama sekali TIDAK MAMPU berubah di satu hari nanti yang diharapkan. selain itu ada juga kenyataan dikalangan mereka,

          YANG BERTUDUNG PUN TIDAK SEMPURNA DAN BERAKHLAK BURUK.

     Kembali kepada persoalan di atas, kelihatan mereka ini begitu membenci dan terganggu serta terkesan dengan keburukan akhlak dan cara tutupan aurat rakan yang lain yang dikatakan memakai tudung tetapi memakai pakaian ketat,berakhlak buruk,membuat maksiat dan sebagainya. Sehingga saudari merasa mereka semua hipokrit dan berburuk sangka. 

     Satu perkara yang ingin ana jelaskan, semua wanita yang bertudung tetapi berbaju ketat, skirt panjang terbelah, berbaju kebaya sempit dan sebagainya, semua mereka berada di satu tahap pada pandangan Islam. Iaitu SEMUA SEDANG MELAKUKAN DOSA DAN SEMUA TIDAK MENUTUP AURAT. Saudari perlulah tahu akan istilah menutup aurat yang sebenar dituntut islam.

     Justeru, adalah SALAH bagi saudari menganggap ‘rakan itu' SEBAGAI MENUTUP AURAT TETAPI BURUK AKHLAK DAN BEROSA. Sebabnya, mereka juga TIDAK MENUTUP AURAT dalam tuntutan islam sebenar. Malah jika mereka benar-benar menutup aurat sekalipun, adalah SALAH untuk merujuk kepada mereka dalam menetap pendirian sama ada saudari perlu sudah sampai masa untuk menutup aurat atau tidak.

     Adalah salah sama sekali dalam hal ehwal agama, untuk kita membandingkan diri kita dengan mereka yang lebih buruk agama dan akhlak. Ia adalah teknik Syaitan uuntuk menghentikan seseorang dari melakukan usaha pemulihan diri kepada yang lebih baik. Tanyala kepada diri, siapa kita untuk mengeluarkan hujah2 sedemikian, jangan sampai suatu hari nanti pintu hati saudari tidak akan berubah selamanya.

    Telah di jelaskan dari hadis Nabi s.a.w, dalam hal agama dan kepatuhannya, kita mesti sentiasa melihat mereka yang lebih dari kita, agar kita terus berusaha manakala dalam hal keduniaan, barulah kita disuruh oleh Islam untuk melihat mereka yang kurang berbanding kita, agar kita lebih tahu untuk bersyukur dan tidak dijangkiti penyakit tamak.

Sabda Nabi :-
خَصْلَتَانِ من كَانَتَا فيه كَتَبَهُ الله شَاكِرًا صَابِرًا وَمَنْ لم تَكُونَا فيه لم يَكْتُبْهُ الله شَاكِرًا ولا صَابِرًا من نَظَرَ في دِينِهِ إلى من هو فَوْقَهُ فَاقْتَدَى بِهِ ونظر في دُنْيَاهُ إلى من هو دُونَهُ فَحَمِدَ اللَّهَ على ما فَضَّلَهُ بِهِ عليه ..

Ertinya : Dua perkara yang sesiapa dapat perolehinya akan ditulis dirinya sebagai hamba yang bersyukur dan sabar, sesiapa yang gagal dalamnya, tidak akan ditulis sebagai orang bersyukur dan sabar. Iaitu sesiapa yang melihat tentang agamanya kepada mereka yang jauh lebih baik darinya, lalu ia berusaha mengikutinya, dan dalam hal keduniaan mereka melihat kepada orang-orang yang kurang darinya sehingga ia memuji Allah atas nikmat yang diperolehinya .. ( Riwayat At-Tirmidzi, 4/665 ; Hadis Sohih menurut Tirmidzi dan Albani)

     Ada juga dikalangan mereka berkata
WALAUPUN TIDAK MEMAKAI TUDUNG (MENUTUP AURAT) TETAPI MASIH JAGA SOLAT DAN MAMPU MENJAGA TINGKAH LAKU.


     Sebelum itu, ana mengucapkan Tahniah atas kemampuan  untuk terus menjaga solat dan menjaga tingkah laku, namun solat yang hakiki dan ikhlas akan menghasilkan seorang yang gerun melakukan dosa, serta akan mendorong seseorang untuk tanpa lengah menunaikan tanggungjawab yang diarahkan Allah seperti dalam isu menutup aurat.

     Namun apabila saudari terus redha dalam pembukaan aurat sedangkan saudari menunaikan solat, ia bermakna solat saudari juga bermasalah. Tapi jangan pula mengatakan, "kalau begitu saya tak mahu solat kerana tak mahu hipokrit", ia telah kita bincang di atas tadi.

   Juga, buktikan kepada diri bahawa jagaan solat saudari adalah benar-benar sebuah ketaatan dan bukan hanya kosong tanpa isi yang bermakna solat hipokrit,tak terkesan pada perbuatan dan identiti seorang muslimah. Tanda awal ia adalah benar-benar sebuah solat adalah saudari akan terbuka hati dengan cepat untuk menutup aurat tanpa terkesan dek buruk perangai orang sekitar yang kononnya menutup aurat tetapi buruk.

     Justeru, ana menasihatkan saudari agar segera keluar dari jenis individu yang saudari sendiri benci (bertudung atau tutup aurat tapi tak solat, mengumpat dsbgnya). Saudari membenci perangai mereka tetapi dari sudut pandangan agama, saudari sebenanrya adalah sebahagian dari mereka kerana :
 Mereka yang menutup aurat dan buruk perangai adalah sama darjatnya dengan mereka yang solat tapi tidak menutup aurat. Kedua-duanya tidak bertanggungjawab terhadap Allah dan sedang melakukan dosa.

      Bagi ana, saudari yang tidak menutupa aurat ini lebih hipokrit kerana mereka tanya la hati saudari,benarkah saudari menyayangi ibuayah,abang atau suami saudari. Jika ya,tutupla aurat kerana mereka yang akan menanggung kesan daripada dosa-dosa saudari,kasihanilah mereka akan dipertanggungjawapkan hal-hal saudari ke atas bahu mereka.Adakah saudari mahu menderhaka kepada ibu, menyuruh melaksanakan suruhanNYA,tetapi saudari lebih mementingkan keegoaan dan kekerasan hati,dimanakah saudari nanti,ingatlah.Jika di duniapun kita telah rugi,jangan biarkan kita tak punya apa2 diakhirat nanti.

     Saudari boleh fikir sendiri, bukankah mentaati ibu dalam hal yang agama adalah WAJIB?. Dan jatuh derhaka bagi seorang anak yang mengguris perasaan ibu, khususnya dalam hal nasihat ibu untuk kita mentaati arahan Allah swt. Alangkah tak dapat nak dibayangkan hanya kerana kegoaan yang tak seberapa,kita menerima kemurkaanNYA yang pasti saudari sendiri tak dapat nak bayangkan.

  Wahai saudari,adakah masih ada hati saudari ingin sampaikan..

BUKAN SEKARANG MASA UNTUK BERUBAH,tunggulah jika dapat hidayah, kami pakai tudug...

    Adakah saudari yang menentukan umur, adakah telah dijanjikan umur saudari dipanjangkan sehingga esok hari or hati telah keras dan dibutakan mata hati,sehingga tidak nampak teguran darinNYA dan hidayah dariNYA..Wahai sahabat, jika bukan sekarang, maka adakah apabila sudah terlantar di rumah mayat baru ingin beurbah. Sedarilah, bahawa kematian akan datang secara tiba-tiba dan tiada sebarang jaminan umur masih panjang beberapa minggu lagi.
Kebaikan dan pelaksanaan tanggungjawab jangan sesekali ditangguhkan, kelak  kempunan di hadapan Allah. Moga Allah membantu kita untuk segera berubah dan terbuka untuk menerima jawapan ini.
dan teruslah kita semua berusaha untuk ikhlas dalam semua amalan kita. insyaALLAH.

Ahad, 3 Januari 2010

70 kali kasih sayang ALLAH daripada seorang ibu kepada anaknya

   Alhamdullillah, segala puji bagiNYA, masih diberi ruang untuk ana mencoret sedikit di lembaran ini , terasa hiba dan sayunya mengenangkan kekedilan diri dan bebanan dosa-dosa yang pastinya tak terhitung banyaknya, setiap saat pasti kita sebagai hambaNYA tak lari dari melakukan kesilapan,
tetapi kesilapan yang terbesar adalah kita terlupa akan keluasan magfirah pengampunanNYA dan kesilapan kita untuk bertaubat sehinggalah ke nafas yang terakhir,alangkah ruginya....

   Teringat ana akan kisah iblis hairan dengan 2 perangai manusia iaitu
1. kita mengaku mencintai ALLAH S.W.T tetapi kita jua menderhakai ALLAH dengan melakukan maksiat. 2.Kita jua mengaku sangat marah dan memusuhi iblis tetapi kita jua sentiasa menurut segala pujukan,rayuan dan hasutan iblis...amat benarlah 2 perangai itu yang ada pada kita...

   Tetapi yang buat ana hiba dan amat sebak bila mengenangkan firmanNYA...
"Hai iblis ! Demi KemuliaanKU dan KebesaranKU,sesungguhnya AKU anugerah ke atas
umat Muhammad itu 2 kebahagiaan :- 1. Kerana kasih mereka kepadaKU maka AKU jadikan kaparah(penebus dosa) bagi maksiat kerana tipu daya kamu. 2. Kerana kemarahan mereka kepada mu AKU jadikan jua kaprah(penebus dosa) bagi maksiat mereka keatasKU."

   Ingatlah wahai saudaraku,bahawa umat Muhammad amat disayangiNYA,70 kali kasih sayangNYA daripada kasih sayang seorang ibu terhadap anak-anaknya,selagi kita berkesempatan...marila kita insaf dan bertaubat serta berpimpin tangan berdakwah menyebar risalah islam dengan akhlak yang terpuji seperti ajaran junjungan kita..Nabi Muhammad S.A.W.

Isnin, 28 Disember 2009

amalan CUKUR JAMBUL bidaah atau......


ASSALAMU'ALAIKUM PARA SAHABAT SEPERJUANGAN,PEMBACA YANG BUDIMAN..
Cuti sekolah ini pasti ramai para ibu bapa mengambil kesempatan mengadakan beberapa perayaan dan majlis antaranya perkahwinan dan bercukur jambul.DIsini ana hanya membincangkan tentang adat bercukur jambul,yang amat popular dikalangan masyarakat kita.
  Cukur jambul merupakan adat resam masyarakat melayu di Malaysia 40 hari selepas kelahiran bayi. Sesetengah tempat memangil sebagai:
  • ENDOI di Kedah;
  • NAIK BUAIAN di sekitar kampung gajah dan Perak Tengah.


Acara

Antara acara semasa majlis cukur jambul ialah :
  • Aqiqah iaitu menyembelih kambing atau lembu.Daging dimasak dan dimakan bersama-sama dalam kenduri.
  • Bacaan Barzanji atau Marhaban: satu bacaan salasilah dan pujian terhadap Nabi Muhamad.
  • Meletakkan bayi di dalam buaian yang dihias indah. Di bawah buaian diletakkan pisau corek dan kemenyan berasap. Tali buaian akan ditarik oleh kanak-kanak.
  • Bayi didukung dan diarak berkeliling tetamu lelaki yang sedang membaca Barzanji di ruang anjung rumah .
  • Beberapa tetamu penting seperti datuk kepada bayi, imamketua kampung dan bomoh akan merestui dan mengusap jambul atau kepala bayi tersebut.

]Alatan

Tepung tawar.
Beberapa bahan semasa majlis cukur jambul ialah:
  • Sedulang bunga rampai;
  • Sebiji kelapa muda berwarna kuning: kelapa tersebut dibelah dan airnya jangan dikeluarkan;
  • Beberapa helai daun tertentu, termasuklah daun sirih alat perenjis;
  • Beras berwarna kuning (telah dilumur dengankunyit);
  • Beras putih;
  • Air wangi (jika ada, sebagai pembaharuan);
  • Bunga telur: untuk diberi kepada setiap tetamu. Biasanya tetamu lelaki diberi keutamaan.

SYARIAT ISLAM

  Berpandukan syariat Islam, istilah cukur jambul sebenarnya tidak wujud dan selari dengan sunnah Nabi Muhammad s.a.w.. Malah amalan ini juga dipercayai berasal daripada masyarakat India yang beragama Hindu.
Dalam Islam, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tiap-tiap anak itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih untuk dia ketika hari ketujuh dan dicukur, lalu diberi nama.” (Riwayat Ahmad dan disahkan oleh Turmudzi)

  Berdasarkan kepada hadis ini, ulama menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. menggalakkan umat Islam yang dikurniakan cahaya mata supaya melakukan akikah pada hari ketujuh. Kemudiannya, daging akikah tersebut diagih-agihkan kepada golongan fakir miskin.

  Mengikut sunnah, apa yang dilakukan oleh Baginda kepada cucunya, Hasan dan Husin, apabila jatuh hari ketujuh diadakan akikah adalah memberikan nama dan mencukur rambut mereka berdua. Rambut tersebut ditimbang dan disamakan dengan nilai perak dan kemudiannya disedekahkan kepada fakir miskin.
Bagaimanapun, ulama hari ini menyatakan, emas boleh digunakan bagi menggantikan perak. Bahkan, mengikut Islam juga, pada hari ketujuh akan dilakukan tahnik.

  Amalan tahnik ialah memasukkan sesuatu yang manis seperti manisan madu lebah atau buah tamar yang dihancurkan dan memalitkannya ke lelangit bayi. Sebaliknya, cecair manis hanya disapukan ke bibir bayi dan bukannya ke dalam mulut sebagaimana yang disunnahkan oleh Rasulullah s.a.w.
Islam menggalakkan amalan mencukur rambut bayi sehingga botak supaya segala kekotoran yang keluar daripada rahim dapat dibuang dan membolehkan rambut baru tumbuh dengan sihat.

  Sebahagian masyarakat Islam hari ini tidak mencukur rambut anak-anak hingga botak sebaliknya mengadakan upacara cukur jambul sebagai adat dan tradisi yang telah dilakukan sejak turun temurun. Tambah mengelirukan, rambut yang digunting itu dimasukkan ke dalam buah kelapa.
Memandangkan terdapat beberapa perkara yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam, maka ulama berpendapat, mengamalkan adat cukur jambul adalah bidaah dan khurafat. Paling menyedihkan apabila terdapat segelintir umat Islam yang cuba menghidupkan kembali kepercayaan seperti ini.

   Selain amalan-amalan di atas yang bertentangan dengan syariat agama, kesilapan yang turut dilakukan ibu bapa hari ini ialah akikah atau cukur rambut dilakukan setelah bayi berusia beberapa bulan. Majlis tersebut turut disertai dengan adat berendoi di mana buaian dihias dengan bunga-bungaan dan perhiasan lain.

  Upacara cukur rambut tidak perlu disertakan dengan marhaban atau berzanji. Ia memadai dengan bercukur rambut sahaja. Melainkan jika ia diadakan pada hari akikah, bolehlah diadakan jamuan.
Masyarakat Islam harus faham bahawa sesuatu amalan yang dilakukan sama ada yang sudah menjadi tradisi dan kebiasaan tanpa bersumberkan nas atau dalil yang sah perlu ditolak. Apatah lagi apabila ia dikaitkan dengan kepercayaan dan tradisi agama lain.

   Kebanyakan amalan yang dijadikan adat bagi orang Melayu dipercayai berasal daripada kepercayaan masyarakat India yang sekian lama diamalkan di negara ini. Berpandukan kepada sejarah, sebelum kedatangan Islam ke Tanah Melayu, penduduk asal negara ini ketika itu menganut agama Hindu.


Rabu, 25 November 2009

UNTUKMU ISLAM.....usah bertaklid buta

Untuk saudara seagama...harap kita semua dalam lindunganNYA dari fitnah akhir zaman, kekolotan dan kesempitan akal,beremosi,sifat2 mazmumah dan hasad dengki manusia. Teringat saya pada kem motivasi anjuran BTN untuk program peranis siswazah pada awal bulan.Menanam sifat kenegaraan dalam setiap hati para peserta.Pasti dari segi pemikiran yang dangkal, penyampaian modul2 terasa berat sebelah, lebih kearah meraih undi,atau sokongan kepada pihak kerajaan.Bagi saya...mungkin ada benar,cuma disini saya hanya mahu membuka rakyat tentang kepentingan kenegaraan yang lebih positif dengan menolak parti2 di hati mereka.Pasti kita banyak membaca dan mendengar berbagai cerita dunia politik masa kini,dengan gejala2 rasuah, penyalahgunaan kuasa dan sebagainya,tapi bukan ini yang ingin saya ketengahkan,yang saya mahu,bahawa kita sebangsa,seagama lebih2 lagi para golongan X,bakal peneraju masa depan negara,tidak cepat melatah,beremosi dan bertaklid buta, bila mendengar atau membaca sesuatu rencana.Bukankah ISLAM mengajar kita meneliti setiap berita dan tidak sewenang2 nya menelan untuk mengelakkan darai fitnah yang boleh mengakibatkan perpecahan kita..Lihatlah wahai saudara2 ku dan sedarlah,kita telah berpecah,berpuak2,lebih mementing soal kuasa,soal kepentingan peribadi dari memikirkan kebaikan bersama.Saya masih teringat akan kata2 seorang hamba ALLAH,kenalan saya yang bertaklid buta menyatakan kekafiran sesama agama,menyatakan org itu ,org ini wahabi termasuklah Dr Asri bekas mufti perlis hanya bila dia mendengar org berkata dan membaca rencana2 yang tanpa soal selidik dan dilapisi dengan hujah2 yang kuat.Begitu mudahnya masyarakat kita sekarang menyatakan sesuatu biarpun pada dasarnya dia sendiri tidak selidiki dan jelas.Saya tidaklah marah,malah saya selidiki setiapa kenyataan yang dibuat,saya telah banyak memabaca rencana2 Dr Asri,rencana melalui blog2 pembanteras wahabi,blog JAKIM dan lain2 demi mendapatkan penjelasan sebenar.Keputusannya saya tidak nampak apa2pun yang salah pada setiap rencana2 Dr Asri dan forum2nya.Mengapa kita mudah mempercayai sesuatu berita daripada meneliti terlebih dahulu.Saya tidak bermaksud menyokong mana2 pihak tetapi biarlah kita berdiri dengan kebenaran dan hujah2 yang jelas dan terang tetapi bukan kerana kepentingan peribadi dan hujah2 yang kosong tanpa ilmu yang cukup.Saya sendiri ingin menegur segolongan ahli2 politik berucap yang ingin meraih undi,jujurlah pada setiap perkatan dan jauhi dari ucapan2 kesat,menghina,cercaan,hasad dan menjatuhkan seseorang pihak lawan baik UMNO,PAS atau PKR.Yang saya amat sedih bila melihat tokoh2 dengan berpakaian agama,berucap dengan kata2 hinaan,tanyalah kepada diri,adakah ini NABI kita MUHAMMAD S.A.W ajar.Ini boleh mengakibatkan penerimaan masyarakat yang mudah bertaklid buta membuat andaian2 dan akan mendatangkan perpecahan dikalangan umat islam,lihat sahaja bukti2 yang kita lihat,perpecahan dikalangan umat2 islam di MALAYSIA,lebih melihat pada parti,kepentingan diri dari kesatuan ummah.Saya sedar ini agak pedas untuk ditelan tetapi marilah kita bersama2 menilai sesuatu perkara sedalam2 nya daripada bertaklid buta dan usahlah kita sering memperkatakan aib2 saudara kita,menghina,mengkafirkan,mencerca sesama agama ingatla pada hadis2 nabi bahawa baginda lebih mementingkan ummah dari peribadi.MUdah2an kita berubah kepada yang lebih baik demi kesejahteraan bersama.

Jumaat, 20 November 2009

ANTI ISLAM

ASSALAMU'ALAIKUM buat saudara islam ku,semoga dirimu sentiasa dalam keteguhan iman,kedamaian hati,dan ketengan akal...SALAM PERSAUDARAAN n SEJAHTERA buat sahabat2ku xsealiran agama denganku,semoga dirimu senantiasa dalam kebaikan dan kebahgiaan.

Anti islam?saya telah banyak membaca blog2 seperti ini, saya sedikitpun tidak terasa tentang hujah2 di blog sedemikian, kerana islam  bukan lah seperti yang mereka katakan, itu hanyalah sekadar takliq buta.

wahai sahabat2ku yang bukan seagama denganku, tanya lah dirimu sendiri, kami islam tidak pernah anti kepada apa2 agamapun di dunia ini,ketahuilah islam bukanlah pengganas, tetapi bermaksud kedamaian,keharmonian,fitrah manusia...ia...FITRAH...

wahai sahabat2ku...FITRAH bermaksud asal keinginan,asal kejadian.....semua bayi yang lahir kedunia ini adalah islam...tetapi ibubapa yg mencorakkan agama ank2 mereka sama ada majusi,nasrani atau yahudi.

Kami umat islam sedar,kami dilanda penyakit kemiskinan dan kemunduran serta perpecahan....tetapi itu berlaku kepada umatnya sahaja...yang disebabkan ujian dan bala dari TUHAN YG ESA kepada kami yang mana salah kami semakin hari semakin hilang keimanan,ketakwaan,solat makin dilupakan,terpengaruh dengan budaya2 kuning dll.Tetapi ISLAM tetap terpelihara dan dijaga,seperti yang telah terbukti sehingga kini AL QURAN tidak tercemar denga cubaan2 utk mengubahnya seperti mana yang berlaku kepada kitab golongan yahudi dan nasrani yang dikotori oleh tangan2 mereka dengan mengubah ayat2 dari TUHAN YANG ESA.

Saya bukanlah berpendidikan tinggi dalam agama ,tetapi saya berusaha erdakwah kepada jalan yang benar,
wahai sahabat2ku....setiap rumah pasti ada pintu,dan setiap pintu ada kuncinya...begitu jua dengan pintu2 langit dan syurga......kunci itu hanya ada pada islam....iaitu ucapan AKU BERSAKSI TIADA TUHAN YANG DISEMBAH MELAINKAN ALLAH DAN AKU BERSAKSI MUHAMMAD ITU PERSURUH ALLAH....insyaALLAH,kita berdialog dengan positif dan mengikut tata tertib bukan dengan emosi...

Kepada saudara islamku, berubahlah....jangan salahkan umat lain memijak umatmu...tanya lah dirimu sendiri adakah RASULLULLAH akan mengaku dirimu umat baginda, jika dirimu tidak pernah ingat kepadanya, melalaikan suruhanNYA,n alpa kepada kewajiban yang DIA tetapkan iaitu SOLAT..Marilah kita berubah...jangan menunding jari kepada kesilapan sendiri,jangan lah beremosi dengan cacian umat lain tetapi ingatlah NABI KITA MUHAMMAD S.A.W berdakwah dengan akhlak yang terlalu mulia.insyaALLAH kita bersama2 berpimpin tangan berubah kepada yang lebih baik...amin.

Khamis, 19 November 2009

PERPADUAN

Dr Rahmat Ghazali

Usaha kerajaan untuk mewujudkan ‘sistem amaran konflik perkauman’ sebagaimana yang dicanangkan tahun lalu mengheret beberapa persepsi terhadap pencapaian negara dalam usaha menyemarakkan perpaduan kaum. Antara persoalan yang terbangkit ialah sejauh manakah usaha kerajaan selama ini berhasil untuk memakmurkan perpaduan kaum, dan apakah pencapaian usaha perpaduan kaum selama ini amat lemah sehingga kerajaan memerlukan suatu sistem indikator bagi mengesan konflik perkauman.

Pada junktur sejarah, usaha serius Malaysia ke arah perpaduan kaum dilihat mula bercambah setelah tercetusnya tragedi 13 Mei apabila Majlis Perpaduan Negara dan selaras dengan itu Kementerian Perpaduan Negara ditubuhkan. Namun saya lihat bahawa bibit-bibit usaha ke arah yang sama juga telah dibenihkan dalam Perlembagaan Kemerdekaan 1957 lagi. Dalam konteks ini klausa-klausa dalam Perlembagaan Persekutuan yang menjurus kepada penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi, peruntukan pelaksanaan sekolah jenis kebangsaan dan penggunaan bahasa kaum minoriti, telahpun dimaktubkan melalui Artikel 152 dan 153, yang seringkali kita rujuk sebagai ‘kontrak sosial’ antara pemimpin-pemimpin parti pelbagai etnik yang dominan di Malaysia.

Sebagaimana yang pernah ditunjukkan oleh kajian Furnival (1956), negara-negara Dunia Ketiga pascamerdeka amat teruk dikacaubilaukan oleh penjajah dengan polisi ‘pecah dan perintah’. Polisi sedemikian juga amat lumayan diamalkan oleh pihak British ke atas datuk nenek kita dahulu sebelum merdeka kerana pendekatan sedemikian menguntungkan pihak penjajah. Bagi Furnival falsafah sedemikian telah mewujudkan dan mengukuhkan pluralisme atau suatu bentuk masyarakat berbilang kaum yang ‘they mix but do not combine’ atau dalam bahasa ibunda, ‘mereka bercampur tetapi tidak bersatu.’ Bagi Furnival falsafah pluralisme sedemikian lebih banyak mendatangkan bencana kepada kestabilan sosial dan politik negara. Menurut Dr Candra Muzaffar, masyarakat kita lebih cenderung kepada hubungan ‘fungsional daripada hubungan empatetik’. Makudnya kita sekadar berhubungan di pejabat, di pasar dan di tempat kerja, tetapi kita tidak mahu berkongsi masalah yang melampaui sempadan-sempadan persekitaran tersebut.

Sebaliknya kita juga sedar bahawa ‘perpaduan kaum’ adalah pemboleh ubah penting dalam menentukan kestabilan politik, sosial, malah ekonomi. Perpaduan kaum itu menuntut hubungan ‘empatetik’ sebagaimana disarankan oleh Dr Chandra. Mana-mana kerajaan jua pastinya berusaha untuk menentukan elemen-elemen penting perpaduan kaum ini digarap supaya pembangunan sosial, ekonomi dan infrastruktur dapat dicapai. Konsep masyarakat majmuk sebagaimana yang dilihat oleh Furnival, memperakui dan membenarkan keperbedaan nilai, norma, budaya dan adat resam sesuatu kaum minoriti. Malah dalam konteks Malaysia, kerajaan amat prihatin dan kaya timbang rasa sehingga toleransi dalam konsep pluralisme itu, tanpa disedari, sedikit-sebanyak telah menjadi peyumbang kepada benih-benih perkauman sesama kita.

Pada suatu ektrim tertentu saya melihat bahawa usaha jitu kerajaan untuk memakmurkan dan menyuburkan perpaduan kaum melalui program perpaduan kaum antara masyarakat berbilang etnik telah banyak terganggu dan kadangkala terbantut pada kadar yang tidak sanggup kita perakui. Tanpa niat mencabar Perlembagaan, melalui falsafah yang didokong oleh Artikel 152 (memberi hak kepenggunaan bahasa minoriti), saya melihat seakan-akan wujud konflik dengan falsafah yang didokong oleh Artikel 153 (menekankan bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi).

Saya juga terlihat Artikel 152 telah menyuburkan kewujudan sekolah-sekolah monoetnik, dan media massa monoetnik yang memberikan tumpuan kepada etnik-etnik yang diperwakilkan melalui bahasa ibunda masing-masing. Malah kita lihat papan tanda iklan kedai-kedai di mana-mana bandar di Malaysia lebih mengutamakan bahasa ibunda masing-masing daripada mengangkat falsafah Artikel 153.

Dalam persekitaran yang keterasingan sedemikian saya lihat aliran dan hala tuju perpaduan kaum tidak menggalakkan pertembungan budaya yang dibawa oleh sistem sekolah monoetknik, dan begitu juga media massa monoetnik. Hal ini menjadi semakin rumit apabila institusi politik kita juga di lihat tertegak atas falsafah monoetnik yang turut memakmurkan konsep pluralisme Furnival.

Profesor Hamdan Adnan, bekas Pesuruhjaya Suhakam, pernah mencatatkan bahawa daripada tahun 1945 hingga 1969 sejumlah dua puluh dua insiden pergeseran etnik telah berlaku, dengan peristiwa 13 Mei 1969 sebagai insiden yang paling dahsyat. Saya gusar dan sangsi jika statistik sedemikian menurun kerana kadangkala diri kita sendiri seringkali menutup sebelah mata untuk mendedahkan secara serius isu-isu sedemikian.

Misalnya Malaysia tidak sunyi daripada peristiwa yang condong kepada perbalahan etnik seperti peristiwa penentangan Dong Jiao Zhong terhadap dasar kementeraian pendidikan pada tahun 1987 yang membawa kepada pelaksanaan ‘Operasi Lalang’, yang menurut beberapa pemerhati politik, hampir sahaja mengulangi peristiwa 13 Mei. Perbalahan pengurusan sebuah kuil Hindu dan masjid di Kampung Rawa, Pulau Pinang pada tahun 1998, tragedi Kampung Medan pada tahun 2001, peristiwa pergaduhan etnik antara peserta PLKN, dan isu mahasiswa UM (malah di semua universiti di Malaysia secara amnya) yang tidak mesra dalam bentuk hubungan silang-etnik, mungkin mengundang kita untuk sama-sama memikirkan tentang kejayaan dasar dan modus operandi perpaduan kaum negara.

Mungkin juga pada suatu ekstrim yang lain, peristiwa-peristiwa berkenaan hanya sekadar kes-kes terpinggir yang tidak harus dilihat sebagai perbalahan etnik tetapi sebaliknya hanyalah perbalahan dua pihak yang boleh saja berlaku dalam kandang intraetnik itu sendiri, dan bukan sekadar dalam persepsi silang-etnik. Sebagaimana lunaknya peribahasa Melayu yang mengatakan bahawa ‘sedangkan lidah lagi tergigit’ apatah lagi situasi iklim kepelbagaian etnik di Malaysia yang bersandar kepada perbezaan bahasa, budaya dan agama sebagai komponen sensitif yang menuntut toleransi tinggi sesama kita.

Walau bagaimanapun kita tidak boleh memandang ringan pada perkembangan hubungan ethnik kontemporari sebagaimana terpancar daripada usaha kerajaan untuk menubuhkan ‘sistem amaran konflik perkauman’ yang akan berpusat di Putrajaya. Nampaknya dengan tertubuhnya sistem sedemikian, kerajaan telah mencari pendekatan ‘adhoc’ iaitu mencegah perbalahan etnik daripada mencambahkan dan menyuburkan benih-benih hubungan mesra antara kaum. Mungkin persepsi saya salah, kerana sebenarnya kerajaan mengutamakan kedua-duanya sekali.

Meninjau realiti politik dan sosial di Malaysia, saya melihat bahawa terdapat elemen-elemen pendekatan yang diambil oleh Malaysia dalam hal membina perpaduan kaum, agak berbeza dengan pendekatan yang dianggap sebagai arus perdana di Barat. Pendekatan yang digunakan oleh kepimpinan Malaysia dalam beberapa aspek berada dalam ekstrim yang bersongsangan berbanding dengan teori perpaduan kaum yang disarankan oleh pemikir-pemikir Barat dan yang diamalkan di sebelah sana.

Amerika dan beberapa negara Eropah seperti Britain dan Perancis misalnya menggunakan konsep ‘melting pot’ atau ‘acuan pelebur’ dalam pendekatan mereka untuk menyatukan pelbagai etnik minoriti, etnik peribumi, dan etnik dominan dalam negara. Dalam proses peleburan itu budaya etnik minoriti terlebur, tercerna, teradun malah sesetengahnya tersirna dalam budaya majoriti yang dominan. Namun di Malaysia kita lihat konsep ‘acuan pelebur’ itu tidak wujud, sebaliknya yang wujud ialah konsep ‘salad bowl’ atau ‘mangkuk sayur-mayur’ yang tidak meleburkan mana-mana unsur etnik tetapi mempersatukan kepelbagaian warna kulit dan budaya dalam satu persekitaran ynag sama.

Dalam konteks yang sama di Britain, sama ada mereka bersetuju atau tidak, juga telah berlaku proses asimilasi budaya yang kadangkala terpaksa mengorbankan malah melenyapkan bahasa dan budaya nenek moyang golongan minoriti tertentu.

Bagi sesetengah budayawan, yang menolak model asimilasi, mereka melihat pendekatan ini sebagai satu bentuk ‘penjajahan dalaman’ kerana dalam proses ini berlaku eksploitasi golongan majoriti terhadap golongan minoriti. Namun dalam banyak contoh di sebelah Barat, golongan majoriti itu adalah juga merupakan pihak pemerintah yang melaksanakan dasar memperlemahkan budaya dan bahasa minoriti atas nama perpaduan kaum.

Dalam konteks ini, banyak kerajaan Barat yang mempertegaskan penggunaan bahasa rasmi sebagai satu-satunya bahasa komunikasi tanpa sebarang kompromi, baik dalam urusan perkhidmatan awam, pendidikan asas di sekolah mahupun di institusi pengajian tinggi. Demi mewujudkan perpaduan kaum, ada kerajaan yang mengharamkan penggunaan dan pengajaran bahasa ibunda golongan minoriti sehingga ke tahap menguatkuasakan hukuman ke atas para pelajar yang berkomunikasi antara mereka dalam bahasa minoriti di dalam kawasan dan persekitaran sekolah. Kerajaan Perancis misalnya telah hampir mengharamkan terus penggunaan bahasa Breton, kerajaan British mengharamkan bahasa Welsh dan kerajaan Scotland telah melenyapkan bahasa Gaelic di bumi Scotland. Berbeda dengan Malaysia, kebanyakan kerajaan Barat menolak sama sekali kewujudan sekolah-sekolah monoetnik dan media massa monoetnik.

Dalam konteks perpaduan kaum, Malaysia juga menghadapi banyak masalah kerana kepercayaan dan perbezaan agama tidak memungkinkan proses asimilasi berlaku. Asimilasi dalam konteks budaya juga tidak berjalan lancar kerana setiap kaum melihat bahawa budaya dan tamadun bangsa mereka masing-masing lebih dominan daripada yang lain. Orang-orang India melihat keagungan tamadun Indus yang bermula pada 2500 S.M. lebih agung daripada tamadun Melayu yang mereka lihat hanya bermula pada kira-kira lima ratus tahun dahulu (jika Kesultanan Melaka menjadi tanda aras). Kaum Cina pula melihat ketamadunan China yang bermula kira-kira 2000 S.M. di Peking jauh lebih hebat daripada tamadun Melayu. Banyaklah elemen-elemen ketamadunan ini yang boleh mereka rasionalkan untuk menyokong kelangsungan budaya mereka masing-masing.

Dengan perkiraan sebegini kadangkala saya lihat bahawa kerajaan juga menjadi serba salah dalam hal menentukan halatuju kebudayaan nasional. Misalnya, pada tahun 1982, Tun Mahathir pernah menyatakan bahawa ‘Budaya Melayu harus menjadi ciri-ciri utama budaya nasional, supaya diterima dan diamalkan oleh semua kaum. Malah terdapat juga yang mahukan budaya Melayu dijadikan satu-satunya elemen budaya nasional’ (dipetik daripada Munro-Kua 1996).

Walau bagaimanapun pada tahun 1995, Tun Mahathir dengan jelas menyatakan bahawa konsep perpaduan kaum tidak lagi bertunjangkan kepada konsep yang berasaskan budaya Melayu. Menurut Tun, ‘Bangsa Malaysia membawa maksud rakyat yang dikenali sebagai membawa identiti Malaysia, menuturkan bahasa Melayu dan meluhurkan Perlembagaan. Untuk merialisasikan bangsa Malaysia, rakyat harus mula menerima kewujudan masing-masing seada-adanya, tanpa mengira kaum dan agama’ (dipetik daripada Francis Loh Kok Wah dan Khoo Boo Teik 2002). Ertinya rakyat Malaysia harus dilihat sebagai Melayu, Cina dan India sebagimana terpancar melalui amalan budaya masing-masing. Konsep ini condong kepada konsep pluralisme Furnival.

Namun pendirian kerajaan yang sedemikian terhadap perpaduan kaum seperti berdiri atas platform yang berbeza pula jika dilihat pada matlamat yang didokong oleh Wawasan 2020, kerana ia diangkat sebagai suatu ‘Bangsa Malaysia’ tanpa melihat perbedaan warna kulit dan amalan budaya. Secara idealnya tidak akan wujud lagi Melayu, Cina atau India jika Wawasan 2020 direalisasikan. Konsep ini condong pula kepada konsep asimilasi.

Jelaslah bahawa di Malaysia pendekatan asimilasi dirujuk semula kerana saya kira pendekatan inilah dilihat sebagai yang terbaik untuk membina perpaduan kaum yang utuh dan tulen, sekurang-kurangnya dalam konteks peleburan bahasa ibunda etnik minoriti. Pendekatan sedemikian telah lama dibuktikan terbaik bagi Malaysia, misalnya dalam konteks golongan Baba Nyonya di Melaka dan juga di Pulau Pinang, golongan India peranakan atau Mami di Pulau Pinang, dan Arab Peranakan telah meleburkan sehingga mengorbankan bahasa nenek moyang mereka. Malah di kalangan golongan Baba Nyonya tercipta bahasa ‘kreol’ mereka yang tersendiri yang pastinya terbina daripada improvisasi bahasa ibunda golongan majoriti Melayu yang lebih dominan.

Amat jelas juga kita lihat bahawa budaya golongan minoriti dalam konteks asimilasi sosial teradun dalam acuan budaya Melayu meskipun secara halusnya terdapat perbezaan di sana-sini. Namun, jika budaya nasional Malaysia boleh diterjemahkan sebagai budaya etnik peribumi Melayu sebagai asasnya, maka saya lihat bahawa budaya Baba Nyonya, India Peranakan dan Arab Peranakan ini telah menjelmakan satu proses perpaduan kaum yang utuh dan tulen.

Namun realitinya dalam konteks kontemporari, dasar perpaduan kaum Kerajaan Malaysia amat mesra dan bertoleransi terhadap bahasa etnik minoriti. Penggunaan bahasa etnik minoriti tidak pernah dikenakan hukuman malah tidak pernah dilarang digunakan di mana-mana sekolah di Malaysia, meskipun di sekolah-sekolah kebangsaan. Malah diwujudkan pula sekolah-sekolah jenis kebangsaan dengan memberikan hak mutlak kepada etnik minoriti untuk menggunakan bahasa ibunda mereka sebagai bahasa pengajaran.

Dengan ekstrim pendekatan pluralisme atau konsep ‘mangkuk sayur-mayur’ seperti di Malaysia kita lihat bahawa dalam situasi tertentu bahasa rasmi menjadi bahasa rojak, malah dicampuradukkan pula dengan bahasa Inggeris mungkin untuk menyuntik ciri-ciri lenggok komunikasi antarabangsa. Bahasa Melayu lisan telor Cina dan telor India menjadi tegar diamalkan bukan sahaja apabila golongan ini berkomunikasi sesama mereka, malah disokong dan disuburkan oleh golongan Melayu sendiri ketika berkomunikasi dengan kaum India dan Cina.

Saya percaya bahawa untuk menjaga martabat bahasa rasmi, penggunaannya mesti juga terlaksana dalam situasi yang tidak formal, bukan sekadar dalam kandang situasi yang rasmi dan formal sahaja. Hanya golongan yang amat sensitif dan insaf sahaja yang beria-ia berjuang untuk mempertahankan gaya dan hukum-hukum tatabahasa bahasa rasmi negara, tetapi malangnya golongan ini seperti Tan Sri Profesor Ameritus Dr Awang Had Salleh, Tan Sri Profesor Dr Ismail Hussien, Profesor Dr Nik Safiah Karim, Dr Awang Sariyan, Dr Chandra Muzaffar, YB Dr Rais Yatim, dan SN A Samad Said, (sekadar menyebut beberapa nama) sudah seperti kehilangan golongan pelapis. Adakah ini suatu kepincangan dalam proses perpaduan kaum yang dicita-citakan Malaysia atau ia suatu kelebihan dan kekuatan pendekatan ‘mangkuk sayur-mayur’ Malaysia?

Akhir-akhir ini pula, kita lihat DBP mahu dinobatkan secara legitimasinya sebagai ‘polis bahasa’. Saya tidak tahu bagaimana polis ini akan melaksanakan tanggungjawabnya apabila melihat di kebanyakan bandar di Malaysia, papan-papan iklan seringkali mengabaikan penggunaan dan pengutamaan bahasa Melayu. Malah bahasa rojak yang haru-biru dan celaru sudah menjadi identiti yang tegar di papan-papan tanda kedai. Namun pada sudut yang amat jauh dalam hati kecil ini, saya optimistik bahawa DBP akan berjaya walaupun terpaksa mengambil masa yang panjang yang penuh onak dan duri, dan sekali gus menyuburkan perpaduan kaum. Saya juga yakin bahawa kejayaan tersebut haruslah dimulakan dengan semangat kecintaan yang tinggi setiap rakyat terhadap negara ini.